Esai, Opini

Generasi Diskusi atau Generasi Ilusi?

September 21, 2026

Penulis : Iqbal Maulidi

Dunia perkuliahan hari ini telah lama bertransformasi. Ruang-ruang kelas tidak lagi sekadar didominasi oleh dosen yang berdiri di depan papan tulis, melainkan diwarnai oleh debat mahasiswa yang dinamis, forum online yang ramai, hingga ratusan grup WhatsApp yang membahas isu-isu sosial terkini. Di atas kertas, kita hidup di era keemasan intelektual. Mahasiswa tampak sangat kritis, vokal, dan peduli terhadap berbagai persoalan bangsa.

Namun, di balik riuhnya ruang diskusi tersebut, muncul sebuah pertanyaan menggelitik yang jarang diucapkan: Apakah kita benar-benar sedang membangun perubahan, atau kita hanya sedang memelihara sebuah ilusi?

Kritis di Layar, Sunyi di Lapangan

Fenomena hari ini menunjukkan pergeseran makna “mahasiswa kritis”. Berdasarkan berbagai pengamatan sosial dan diskursus pendidikan tinggi, partisipasi mahasiswa sering kali tereduksi menjadi performative activism atau aktivisme performatif. Media sosial seperti X (dulu Twitter), Instagram, dan LinkedIn telah menjadi panggung utama bagi mahasiswa untuk menunjukkan kepekaan intelektual mereka.

Sebuah utas (thread) panjang mengenai kebijakan kampus, isu ketimpangan sosial, atau krisis iklim dapat meraup ribuan likes dan retweets dalam hitungan jam. Sayangnya, energi kritis tersebut sering kali berhenti sebatas tombol share dan kolom komentar. Ruang-ruang diskusi di kampus kerap kali berubah menjadi ajang pembuktian siapa yang paling fasih menggunakan istilah-istilah akademis, bukan lagi tentang mencari solusi nyata. Ketika diskusi bubar, tidak ada aksi lanjutan yang menyertai. Inilah bentuk nyata dari ilusi keterlibatan—merasa telah berbuat banyak hanya karena telah bersuara di dunia maya.

Jebakan Echo Chamber Akademis

Kehidupan perkuliahan modern juga semakin mempersempit cara pandang mahasiswa melalui algoritma digital dan kelompok pertemanan yang homogen. Diskusi yang seharusnya menjadi wadah benturan gagasan sering kali berubah menjadi ajang validasi diri. Mahasiswa cenderung berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa, menciptakan echo chamber (ruang gema) yang membuat mereka merasa selalu benar.

Akibatnya, ketika dihadapkan pada realitas masyarakat yang kompleks di luar kampus—seperti dunia kerja yang dinamis, birokrasi yang kaku, atau persoalan ekonomi masyarakat bawah—banyak mahasiswa merasa gagap. Teori-teori hebat yang didiskusikan di ruang seminar sering kali terasa asing ketika dihadapkan pada akar rumput. Di sinilah diskursus kehilangan substansinya, berubah menjadi menara gading tempat para akademisi muda berlindung dari realitas yang sesungguhnya.

Menembus Batas Ilusi Menuju Aksi Nyata

Menjadi bagian dari “Generasi Diskusi” bukanlah hal yang keliru; ia adalah prasyarat mutlak bagi kaum intelektual. Namun, diskusi tanpa aksi hanyalah angin lalu yang menghasilkan ilusi kemajuan.

Agar predikat agent of change tidak sekadar menjadi klise kosong, mahasiswa perlu merefleksikan ulang orientasi intelektual mereka. Diskusi harus kembali diletakkan pada fungsinya yang otentik: sebagai jembatan menuju solusi praktis. Sudah saatnya energi kritis dialirkan ke dalam bentuk pengabdian nyata, riset yang berdampak langsung pada masyarakat, serta keberanian turun tangan mengatasi masalah-masalah kecil di lingkungan sekitar kampus.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak pernah mencatat perubahan besar hanya dari seberapa lantang sebuah generasi berdiskusi, melainkan dari seberapa konsisten mereka mewujudkan gagasan menjadi tindakan nyata.

Bagaimana menurut Anda, sejauh mana ruang diskusi di lingkungan perkuliahan saat ini benar-benar memicu aksi nyata, atau justru terjebak dalam rutinitas perdebatan semata?**

**Penulis : Iqbal Maulidy, Mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan, Kader DPD IMABA Al-Khairat Pamekasan

Facebook
X
WhatsApp

Berita Terbaru

Opini