Pamekasan – Madura dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau yang penting di Jawa Timur. Tembakau bukan hanya tanaman pertanian bagi masyarakat Madura, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat. Banyak petani menggantungkan pendapatan dari tanaman tembakau, sementara keberadaan gudang dan industri tembakau menjadi tempat berlangsungnya proses pembelian, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi tembakau.
Karena itu, semakin banyak gudang tembakau atau gudang yang berkaitan dengan industri rokok di Madura sebenarnya memiliki dua sisi: memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan pendidikan.
Menurut Kementerian Pertanian, tembakau di Madura merupakan komoditas utama yang ditanam di lahan sawah, tegal, dan gunung, terutama pada musim kemarau. Rata-rata luas pertanaman tembakau di Madura mencapai sekitar 47.893 hektare setiap tahun. Data tersebut menunjukkan bahwa tembakau memang memiliki peranan ekonomi dan sosial yang cukup besar bagi petani, industri rokok, dan pemerintah daerah.
Namun, besarnya kegiatan ekonomi tembakau juga harus diikuti dengan perhatian terhadap masyarakat dan lingkungan. Menurut saya, keberadaan banyak gudang tembakau tidak bisa langsung disebut membahayakan masyarakat hanya karena gudang tersebut menyimpan tembakau atau berhubungan dengan industri rokok. Bahayanya sangat bergantung pada kegiatan yang dilakukan di gudang, lokasi gudang, pengelolaan limbah, kualitas udara, kebisingan, lalu lintas kendaraan, serta jaraknya dengan permukiman dan sekolah.
Hal yang perlu dibedakan adalah gudang tembakau dengan asap rokok. Gudang yang hanya digunakan untuk menyimpan daun tembakau tentu memiliki risiko yang berbeda dengan tempat produksi rokok. Begitu pula dengan gudang yang memiliki aktivitas pengolahan. Oleh sebab itu, masyarakat seharusnya tidak hanya bertanya, “Apakah gudang rokok berbahaya?”, tetapi juga “Apa kegiatan yang dilakukan di dalam gudang tersebut dan bagaimana pengelolaannya?”
Dari sisi lingkungan, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah limbah dan kebersihan. Aktivitas gudang dapat menghasilkan sampah, debu, limbah kemasan, serta meningkatkan aktivitas kendaraan pengangkut tembakau. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat mengganggu kenyamanan masyarakat. Gudang yang berada terlalu dekat dengan permukiman juga dapat menimbulkan masalah berupa suara kendaraan, kepadatan lalu lintas, dan gangguan lainnya.
Selain itu, persoalan lingkungan tidak hanya berasal dari gudang. Proses pertanian tembakau juga perlu diperhatikan. Penelitian mengenai keberlanjutan tembakau Madura menunjukkan bahwa dimensi ekologi merupakan salah satu aspek penting dalam keberlanjutan sistem produksi tembakau. Penelitian tersebut memberikan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi sekitar 52,37, yang termasuk kategori cukup berkelanjutan. Artinya, kegiatan tembakau masih dapat berlangsung, tetapi tetap terdapat aspek lingkungan yang perlu diperbaiki.
Dari sisi kesehatan, kekhawatiran masyarakat juga cukup beralasan, terutama jika yang dimaksud adalah paparan asap rokok. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa asap rokok orang lain atau perokok pasif juga berbahaya bagi orang yang berada di sekitarnya. Asap rokok mengandung berbagai zat berbahaya dan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Karena itu, jika sebuah gudang juga menjadi tempat orang merokok secara terus-menerus dan asapnya menyebar ke lingkungan sekitar, hal tersebut tentu perlu mendapatkan perhatian.
Tetapi sekali lagi, kita tidak boleh menyamakan “banyak gudang tembakau” dengan “banyak asap rokok”. Keduanya merupakan persoalan yang berbeda. Gudang yang dikelola dengan baik, memenuhi aturan kesehatan dan lingkungan, serta tidak menghasilkan pencemaran yang melewati batas, tidak dapat begitu saja dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat.
Persoalan lain yang menurut saya sangat penting adalah pendidikan. Perkembangan industri tembakau seharusnya tidak membuat pendidikan anak-anak Madura menjadi hal yang kedua. Justru ketika kegiatan ekonomi semakin berkembang, kesempatan masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik juga harus meningkat.
Data BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2024 rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas di empat kabupaten di Madura masih relatif rendah dibandingkan rata-rata Jawa Timur. Kabupaten Bangkalan mencatat sekitar 6,73 tahun, Sampang 5,71 tahun, Pamekasan 7,17 tahun, dan Sumenep 7,13 tahun. Sementara rata-rata Jawa Timur mencapai 8,69 tahun.
Angka tersebut tidak berarti bahwa keberadaan gudang tembakau menjadi penyebab rendahnya pendidikan. Tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat seperti itu. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan pembangunan pendidikan perlu berjalan bersama.
Industri tembakau dan gudang-gudang yang ada di Madura seharusnya tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga ikut berkontribusi terhadap masyarakat. Misalnya, perusahaan dapat memberikan beasiswa kepada siswa kurang mampu, membantu fasilitas sekolah, menyediakan pelatihan keterampilan, atau mendukung kegiatan pendidikan di sekitar wilayah operasionalnya.
Hal tersebut penting karena pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Seorang anak yang mendapatkan pendidikan yang baik tidak hanya memiliki kesempatan untuk bekerja di sektor pertanian atau industri, tetapi juga dapat menjadi guru, tenaga kesehatan, pengusaha, teknisi, pegawai, atau profesi lainnya. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya bergantung pada satu sektor ekonomi.
Di sisi lain, pendidikan juga dapat membantu masyarakat memahami bagaimana mengelola lingkungan dan kesehatan. Anak-anak perlu mendapatkan pengetahuan mengenai bahaya merokok, bahaya menjadi perokok pasif, pengelolaan sampah, serta pentingnya menjaga lingkungan. Kementerian Kesehatan pada 2026 juga menekankan pentingnya pencegahan merokok sejak dini dan mendorong edukasi mengenai bahaya rokok masuk ke lingkungan sekolah secara lebih luas.
Persoalan gudang tembakau di Madura tidak seharusnya dilihat hanya dari sisi “ada gudang berarti berbahaya” atau sebaliknya “gudang memberikan pekerjaan berarti tidak masalah”. Keduanya terlalu sederhana. Yang lebih penting adalah bagaimana gudang tersebut dikelola dan seberapa besar manfaat serta dampaknya bagi masyarakat.
Jika gudang memberikan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan petani, membayar kewajiban kepada negara, dan dikelola sesuai aturan lingkungan, keberadaannya dapat memberikan manfaat ekonomi. Namun, jika gudang menimbulkan pencemaran, mengganggu permukiman, tidak mengelola limbah dengan baik, atau berada terlalu dekat dengan fasilitas sensitif seperti sekolah tanpa pengamanan yang memadai, maka pemerintah dan masyarakat memiliki alasan untuk meminta evaluasi.
Bahkan pada tahun 2024, produksi tembakau Madura dilaporkan mencapai sekitar 43 ribu ton, sementara terdapat kelebihan stok yang belum terserap oleh industri. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan tembakau bukan hanya tentang banyaknya gudang, tetapi juga tentang keseimbangan antara produksi, kebutuhan industri, harga, dan kesejahteraan petani.
Pada akhirnya, menurut saya, Madura tidak harus memilih antara ekonomi, lingkungan, kesehatan, dan pendidikan. Keempatnya justru harus berjalan bersama. Gudang tembakau boleh berkembang apabila keberadaannya memberikan manfaat bagi masyarakat dan memenuhi aturan yang berlaku. Tetapi pertumbuhan industri juga harus dibarengi dengan pengawasan lingkungan, perlindungan kesehatan, dan perhatian terhadap pendidikan generasi muda.
Masyarakat juga memiliki hak untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dan aman. Pemerintah memiliki kewajiban melakukan pengawasan. Sementara perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kegiatan usahanya secara bertanggung jawab.
Jadi, apakah banyaknya gudang rokok atau gudang tembakau di Madura membahayakan masyarakat? Jawabannya tidak bisa langsung dikatakan ya atau tidak. Risiko tersebut bergantung pada jenis kegiatan gudang, pengelolaan lingkungan, lokasi, limbah, kualitas udara, dan kepatuhan terhadap aturan. Yang jelas, asap rokok memang memiliki risiko kesehatan yang sudah terbukti, sedangkan keberadaan gudang tembakau sendiri perlu dinilai berdasarkan aktivitas dan dampak nyata di lapangan.
Ukuran keberhasilan pembangunan Madura bukan hanya seberapa banyak gudang berdiri atau seberapa besar produksi tembakau, tetapi juga apakah masyarakat hidup di lingkungan yang sehat, anak-anak dapat bersekolah lebih lama, dan petani memperoleh penghasilan yang layak. Jika ekonomi tumbuh tetapi lingkungan rusak dan pendidikan tertinggal, maka pembangunan belum dapat dikatakan berjalan secara seimbang.
Karena itu, keberadaan gudang tembakau seharusnya menjadi bagian dari pembangunan yang bertanggung jawab. Pemerintah, perusahaan, petani, sekolah, dan masyarakat perlu duduk bersama agar industri tembakau tetap memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kesehatan, lingkungan, dan masa depan pendidikan anak-anak Madura.**
Penulis : Anni Rifkatul Laily (Mahasiswi IAI Al-Khairat Pamekasan, Kader DPD IMABA Al-Khairat Pamekasan)