Opini

Ilusi Generasi Emas dan Reformasi Pendidikan yang Butuh Lebih dari Sekadar Ganti Nama

Juli 15, 2026

Moh. Malthuf (Koordinator Bidang Pendidikan, Riset dan Teknologi Forum Strategis Pembangunan Sosial)

Saat ini, dunia pendidikan di Indonesia sedang berada di titik penting yang sangat krusial. Setelah beberapa tahun beradaptasi dengan Kurikulum Merdeka, kebijakan nasional kini mulai bergerak pada perubahan metode lagi, yaitu menerapkan metode pembelajaran mendalam atau Deep Learning. Langkah ini dilakukan sebagai tanggapan atas peninjauan menyeluruh terhadap kemajuan literasi dan numerasi siswa yang belum mencapai tingkat yang diharapkan. Intinya adalah mengubah kelas menjadi tempat di mana siswa tidak hanya menghafal materi yang banyak, tetapi juga belajar berpikir secara kritis, analitis, dan mencari solusi. Namun, mengganti sebuah sistem pendidikan yang sudah kuat berakar selama puluhan tahun bukanlah sesuatu yang mudah.

Bagi kami, pergeseran paradigma ini sangat penting jika memang melihat rapor akademis nasional di tingkat internasional. Berdasarkan data PISA terbaru, hasil belajar siswa Indonesia masih menunjukkan tanda-tanda yang memprihatinkan. Skor literasi membaca di Indonesia adalah 359, kemampuan matematika mencapai 366, dan kemampuan sains mencapai 383. Angka-angka ini tidak hanya menempatkan Indonesia jauh di bawah rata-rata negara OECD (yang memiliki skor sekitar 470 hingga 480), tetapi juga menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kita masih belum bisa menguasai kemampuan dasar yang sederhana. Gagasan pembelajaran Deep Learning yang didasarkan pada tiga prinsip yaitu mindful, meaningful, dan joyful learning hadir sebagai solusi strategis untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) yang selama ini menjadi kelemahan.

Jika pendekatan ini berhasil, maka siswa tidak lagi fokus pada jumlah bab buku teks yang harus diselesaikan untuk ujian, melainkan diajak memahami dengan lebih dalam isi materi tersebut agar pembelajaran bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, di balik keinginan baik dari kurikulum baru itu, ada hambatan nyata dari struktur yang ada di lapangan. Kebijakan yang dibuat di tingkat pusat sering kali bertabrakan karena adanya perbedaan dalam sarana yang dimiliki. Data pokok pendidikan (Dapodik) dari Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam proses transisi ini terletak pada kondisi bangunan.Lebih dari 50% ruang kelas di jenjang SD hingga SMA di seluruh Indonesia masih dalam kondisi rusak, baik rusak ringan maupun rusak berat. Di wilayah yang tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), jangankan membicarakan belajar dengan kesadaran diri, hanya memastikan atap ruang kelas tidak bocor dan listrik tetap menyala saja sudah menjadi pekerjaan rutin sehari-hari.

Selain bangunan dan fasilitas, guru adalah pusat utama dari perubahan ini. Pendekatan pembelajaran mendalam membutuhkan guru berperan sebagai fasilitator yang kreatif, bukan hanya seorang penceramah saja. Namun, beban administrasi yang cukup berat dan isu kesejahteraan masih menjadi hambatan utama. Panefaktur karena informasi akan menyiapkan tenaga pendidik di antarwilayah, pemenuhan guru ASN akan menyiapkan ratusan ribu formasi yang bisa terserap dengan baik di Indonesia, menyiapkan pembelajaran yang menyenangkan jika mereka harus memikirkan cara menghidupi keluarga dengan tunjangan yang sering datang terlambat atau dibuat bekerja jauh dari rumah, bahkan ratusan kilometer. Perbedaan kemampuan sekolah dalam menerima siswa dan dinamika PPDB zonasi yang terus terjadi setiap tahunnya semakin mempersulit tekanan psikologis terhadap seluruh ekosistem sekolah.

Kami ingin menegaskan bahwa reformasi pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada perubahan kata-kata dalam kebijakan atau nama-nama kurikulum yang tercantum di kertas saja. Paradigma baru seperti Deep Learning hanya akan terlihat sebagai sesuatu yang indah di permukaan, tanpa ada perubahan yang fundamental dalam struktur yang mendukungnya. Pemerintah perlu memastikan bahwa peningkatan kualitas pembelajaran dilakukan seiring dengan pengalokasian anggaran yang tepat untuk mendistribusikan fasilitas sekolah secara merata serta memastikan kesejahteraan guru benar-benar terpenuhi di seluruh penjuru negeri. Hanya dengan dasar yang merata dan kuat itulah, visi untuk melahirkan generasi emas Indonesia yang kritis, kreatif, dan memiliki karakter dapat benar-benar menjadi nyata, bukan hanya angka-angka di dalam dokumen perencanaan nasional.

Efektivitas pendidikan di tanah air tidak pernah dinilai dari seberapa besar gedung kementerian, seberapa tebal dokumen kurikulum yang dikeluarkan, atau seberapa sering istilah-istilah akademis dibahas di ruang seminar. Bagi masyarakat umum, orang tua yang khawatir, pelaku usaha yang menghadapi perubahan zaman, dan warga yang memperhatikan kegaduhan di media sosial, efektivitas pendidikan itu seharusnya bisa kita rasakan, kita dengar, dan kita alami langsung di meja makan, di koridor kantor, hingga di ruang publik.

Efektivitas pendidikan sebuah bangsa bisa dilihat dari cara jempol dan mulut masyarakatnya bekerja. Kita akan merasakannya ketika ruang-ruang diskusi di media sosial mulai berubah dari hanya saling menjatuhkan dengan kata-kata kasar dan menyebarkan berita palsu yang tidak bermakna, menjadi tempat yang sehat untuk saling bertukar pikiran. Masyarakat yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang dalam tidak akan mudah terpesona oleh investasi palsu, tidak akan mudah terjebak dalam permainan judi online, dan tidak akan mudah diadu-domba oleh perasaan atau pendapat yang terburu-buru, karena kemampuan berpikir kritis mereka memungkinkan mereka membedakan mana informasi yang bernilai dan mana yang hanyalah racun yang hanya sekadar mempercantik diri.

Lebih dari itu, keberhasilan pendidikan terlihat dari adanya empati yang nyata di tengah masyarakat. Kita merasakannya saat melihat para pemuda di sekitar kita tidak lagi membungkam suaranya. Mereka secara alami tertarik untuk mengurus hal-hal produktif dan mereka akan berinisiatif membantu tetangga yang sedang kesulitan, atau membangun ruang baca kecil di sudut desa. Nilai-nilai karakter dan pembelajaran yang berarti yang diajarkan di sekolah tidak hilang begitu saja setelah bel masuk berbunyi, melainkan tumbuh menjadi tindakan nyata dalam bersikap sopan, toleran, dan peduli kepada sesama.

 

Penulis : Moh. Malthuf (Koordinator Bidang Pendidikan, Riset dan Teknologi Forum Strategis Pembangunan Sosial)

Facebook
X
WhatsApp

Berita Terbaru

Opini