sinkronesia.com – Bagi masyarakat Madura, langgar atau surau kecil di depan rumah bukan sekadar tempat menunaikan ibadah salat. Secara sosiologis, langgar adalah jantung kehidupan sosial. Di atas bambu-bambu langgar, musyawarah desa digelar, nasehat Kiai didengarkan, berita duka disebarkan, hingga urusan perantauan dibicarakan secara santai sambil menyeruput kopi. Langgar adalah sebuah ruang komunal yang hangat, mengandalkan interaksi tatap muka, dan sarat akan etika penghormatan (Toḍus).
Namun, pemandangan itu perlahan bergeser. Hari ini, riuh musyawarah dan dinamika sosial warga pedesaan Madura tidak lagi sepenuhnya berpusat di langgar, melainkan telah berpindah ke layar gawai melalui grup-grup WhatsApp desa, paguyuban perantau, hingga keluarga besar.
Fenomena ini sering kali kita sebut secara sederhana sebagai dampak “modernisasi” atau kemajuan teknologi. Padahal, jika dibaca melalui kerangka pemikiran Ekologi Media (Media Ecology), apa yang terjadi di tanah Madura sejatinya adalah sebuah transformasi lingkungan sosial yang sangat mendasar.
Lingkungan Baru, Cara Hidup Baru
Pakar ekologi media, Neil Postman, pada tahun 1970 mencetuskan bahwa media komunikasi pada dasarnya adalah sebuah lingkungan (ecology). Kata ekologi dipilih karena ia menyiratkan kajian tentang struktur, isi, dan dampak lingkungan terhadap manusia. Postman menegaskan sebuah prinsip penting: kehadiran teknologi baru tidak sekadar menambahkan sesuatu ke dalam kebudayaan lama, melainkan mengubah segalanya.
Seagaimana Postman mengandaikan bahwa jika Anda menghilangkan ulat dari suatu habitat, Anda tidak mendapatkan lingkungan yang sama minus ulat, melainkan sebuah lingkungan yang sama sekali baru. Begitu pula saat gawai pintar dan internet hadir di pedesaan Madura. Masyarakat Madura hari ini bukanlah masyarakat Madura lama yang sekadar ditambahi gawai. Mereka kini hidup di dalam ekosistem kebudayaan yang sama sekali baru.
Di lingkungan langgar tradisional, ruang publik terikat rapat oleh batasan fisik dan waktu. Warga harus hadir secara langsung di satu tempat untuk bertukar kabar. Namun, gawai pintar meruntuhkan batas-batas tersebut. Grup WhatsApp desa menyatukan warga yang tinggal di kampung halaman dengan para perantau di Jakarta, Kalimantan, hingga Malaysia dalam satu ruang percakapan yang sama secara real-time. Kehadiran medium digital ini mendefinisikan ulang makna “ruang berkumpul” bagi masyarakat Madura.
“Bias” Medium: Kepastian Instan vs Ketenangan Tatap Muka
Salah satu gagasan mendasar dalam teori ekologi media sebagaimana dipelopori Marshall McLuhan melalui kalimat terkenalnya “the medium is the message” adalah bahwa kecenderungan bawaan atau “bias” dari suatu medium jauh lebih berpengaruh daripada isi pesan yang disampaikan. Medium itu sendiri yang membentuk struktur pemikiran dan cara hidup kita.
Medium langgar tradisional memiliki bias bawaan berupa kehangatan emosional, ketenangan, serta rasa hormat yang mendalam karena adanya interaksi tatap muka secara fisik. Dalam musyawarah di langgar, nada suara, ekspresi wajah, dan gestur tubuh menjadi kontrol sosial agar tidak terjadi konflik verbal.
Sebaliknya, media digital memiliki bias berupa kecepatan, kepastian instan, dan efisiensi. Sebagaimana diperkirakan Postman, ketika teknologi mendominasi kebudayaan, efisiensi menjadi nilai yang diutamakan. Informasi tentang rencana kerja bakti, bantuan sosial, hingga dinamika politik lokal di desa kini dituntut untuk direspons secara seketika. Keputusan yang dulu membutuhkan pertemuan berhari-hari di langgar kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit lewat pemungutan suara digital. Warga menuntut kepastian dan kepuasan informasi secara langsung. Jika lambat, sistem komunikasi tersebut dianggap kurang memadai.
Perubahan Sensorik dan Resiko Keregangan Komunal
Perubahan ekologi komunikasi ini membawa dampak ganda yang berlawanan. Di satu sisi, ekologi digital memberi daya jangkau yang luar biasa. Perantau Madura yang berada jauh di luar pulau tidak lagi terisolasi dari perkembangan kampung halamannya. Mereka dapat berpartisipasi aktif, menyumbang gagasan, hingga mengontrol pembangunan desa dari jauh.
Namun di sisi lain, ada harga ekologis yang harus dibayar. Layar gawai menciptakan “lingkungan sensorik” yang dingin. Teks digital ringkas di WhatsApp sering kali kehilangan nuansa, kehangatan, dan kesantunan yang biasanya menjadi peredam konflik saat warga duduk bersama di atas tikar pandan langgar.
Etika Toḍus (rasa malu dan rasa hormat) yang selama ini menjadi benteng pertahanan moral masyarakat Madura terkadang goyah di ruang digital. Gesekan antar-keluarga atau antar-warga kini lebih mudah terpicu hanya karena salah menafsirkan kalimat singkat di grup percakapan. Anonimitas dan jarak layar gawai membuat orang lebih spontan menyatakan ketidaksetujuan suatu hal yang sangat jarang terjadi dalam tradisi musyawarah tatap muka di langgar.
Menjaga Karakter di Tengah Ekologi Digital
Masyarakat Madura saat ini tengah mengarungi lingkungan media yang benar-benar baru. Gawai tidak lagi berada di latar belakang sebagai alat pembantu, melainkan telah menjadi pilar utama yang membentuk cara mereka berpikir, berhubungan, dan bermusyawarah.
Langgar fisik di pelataran rumah orang Madura mungkin tidak akan pernah roboh secara bangunan. Namun, fungsinya telah mengalami pergeseran ekologis yang nyata. Tantangan terbesar bagi masyarakat Madura hari ini adalah bagaimana memanfaatkan efisiensi dan jangkauan luas dari ekologi media baru ini, tanpa harus kehilangan roh kehangatan, kearifan lokal, dan kedalaman silaturahmi yang selama ini ditempa di atas tikar langgar.**
Daftar Pustaka
- Littlejohn, S. W., Foss, K. A., & Oetzel, J. G. (2017). Theories of Human Communication (11th ed.). Long Grove, IL: Waveland Press.
**Penulis : Daniel Hikam adalah seorang mahasiswa sekaligus penikmat kajian komunikasi dan kebudayaan. Ia tertarik mengamati dinamika sosial masyarakat, isu-isu komunikasi antarbudaya, serta fenomena sosial sehari-hari. Penulis dapat dihubungi melalui email danielhikam3@gmail.com atau akun media sosial instagram @daniel.hikam.