JOMBANG – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, memanas. Ratusan massa pendukung KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf mendatangi lokasi sidang dan berusaha merangsek ke arena Muktamar, Minggu (30/8/2026).
Dilansir dari Kompas.com, aksi tersebut berkaitan dengan polemik aturan pencalonan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Massa memprotes keputusan dalam persidangan yang dinilai berdampak pada peluang Gus Yusuf untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Massa mulai berdatangan ke sekitar Gedung Serba Guna (GSG) KH Hasbullah Said, lokasi berlangsungnya sidang pleno. Mereka kemudian berhadapan dengan barikade keamanan yang dijaga Banser.
Situasi pun sempat memanas. Massa dan petugas keamanan terlibat aksi saling dorong ketika sebagian pendemo mencoba mendekati area persidangan. Sejumlah massa juga menyampaikan protes melalui pengeras suara.
Persoalan bermula dari pembahasan tata tertib pencalonan Ketua Umum PBNU. Salah satu aturan yang menjadi sorotan berkaitan dengan masa jeda atau iddah politik bagi seseorang yang sebelumnya memiliki jabatan di partai politik.
Aturan tersebut menjadi perhatian karena Gus Yusuf sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah dan baru mengundurkan diri pada Februari 2026.
Selain persoalan masa jeda politik, massa juga mempersoalkan ketentuan mengenai pengalaman kepengurusan di struktur NU sebagai salah satu syarat pencalonan.
Pendukung Gus Yusuf menilai aturan tersebut merugikan calon tertentu dan meminta keputusan dalam persidangan dievaluasi.
“Kami menganggap forum di dalam sidang berlaku tidak adil terhadap beberapa calon. Karena itu kami berharap kiai sepuh turun tangan ikut terlibat mengevaluasi pimpinan sidang,” kata salah satu perwakilan pendemo, Muhammad Akbar Jadi.
Menurut Akbar, Gus Yusuf semestinya tetap memiliki ruang untuk mencalonkan diri karena dianggap memiliki keterkaitan kuat dengan lingkungan pesantren NU.
Hingga Minggu siang, massa masih berkumpul di sekitar lokasi Muktamar. Aksi tersebut berlangsung menjelang agenda sidang pleno berikutnya yang dijadwalkan membahas pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Kericuhan ini menjadi salah satu dinamika paling mencolok dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU. Perdebatan mengenai aturan pencalonan kini tidak hanya berlangsung di dalam ruang sidang, tetapi juga mendapat respons keras dari massa di luar arena.
Sumber: Dilansir dari Kompas.com, dengan pengembangan informasi dari perkembangan pemberitaan di lokasi.