Penulis: taufik.elghazalean.98@gmail.com

  • Mimpi Besar, Masalah Besar: Indonesia di Persimpangan

    Indonesia memasuki pertengahan 2026 dengan harapan sekaligus kecemasan. Harapan itu datang dari keyakinan bahwa negeri ini memiliki hampir semua modal untuk menjadi negara maju: sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, serta ambisi besar membangun industri melalui hilirisasi. Namun, di balik optimisme tersebut, tersimpan pertanyaan yang semakin sulit diabaikan: apakah pembangunan yang sedang berlangsung benar-benar memperkuat kesejahteraan rakyat, atau justru memperkuat segelintir kelompok yang menguasai sumber daya dan kekuasaan?

    Sepintas, kondisi Indonesia tampak baik-baik saja. Ekonomi masih tumbuh di kisaran 5 persen, angka kemiskinan perlahan menurun, dan tingkat pengangguran relatif terkendali. Namun, angka-angka itu belum sepenuhnya mencerminkan realitas yang dirasakan masyarakat. Daya beli mulai melemah, investasi swasta belum bergerak optimal, kesenjangan antarwilayah masih lebar, dan ketimpangan kekayaan tetap menjadi persoalan serius. Pertumbuhan ekonomi masih terasa sebagai capaian statistik, belum sepenuhnya menjadi kesejahteraan yang dirasakan secara merata.

    Persoalan mendasarnya bukan terletak pada kurangnya sumber daya, melainkan pada arah pembangunan yang belum sepenuhnya inklusif. Hilirisasi mineral memang membuka peluang ekonomi baru, tetapi manfaat terbesar masih banyak dinikmati kelompok usaha besar. Di saat yang sama, berbagai program populis membutuhkan anggaran yang sangat besar sehingga ruang fiskal pemerintah semakin sempit. Akibatnya, transfer anggaran ke daerah berkurang dan kemampuan pemerintah daerah untuk membangun serta menghadapi berbagai persoalan menjadi semakin terbatas.

    Yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi politik dan tata kelola pemerintahan. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia terus menurun, sementara berbagai laporan internasional menunjukkan kualitas demokrasi mengalami kemunduran. Ruang kritik semakin sempit, mekanisme pengawasan melemah, dan muncul berbagai wacana yang berpotensi mengurangi partisipasi publik dalam proses politik. Hubungan antara kekuasaan, birokrasi, dan kepentingan bisnis juga semakin sulit dipisahkan sehingga korupsi tidak lagi tampak sebagai penyimpangan, tetapi berisiko menjadi bagian dari cara kerja sistem.

    Kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep state capture yang diperkenalkan Joel Hellman. Dalam situasi seperti ini, negara bukan lemah, tetapi kebijakannya dipengaruhi oleh kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik. Regulasi akhirnya lebih banyak melindungi kepentingan elite dibandingkan kepentingan masyarakat. Dampaknya sangat nyata. Kelas menengah semakin terbebani oleh kenaikan biaya hidup, sementara banyak anak muda kesulitan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan mereka. Bonus demografi yang selama ini dibanggakan berpotensi berubah menjadi beban apabila kualitas pendidikan dan kesempatan kerja tidak segera diperbaiki.

    Persimpangan ini juga terlihat dalam kehidupan sosial. Semangat nasionalisme ekonomi kerap diterjemahkan menjadi kebijakan yang terlalu protektif sehingga menghambat inovasi dan persaingan. Di sisi lain, konflik di Papua, kerusakan lingkungan akibat ekspansi tambang, serta polarisasi identitas masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Pada akhirnya, masyarakat kecil tetap menjadi kelompok yang paling merasakan dampak dari ketimpangan pembangunan.

    Karena itu, solusi yang dibutuhkan harus menyentuh akar persoalan. Reformasi fiskal perlu diarahkan pada sistem pajak yang lebih adil, terutama terhadap kepemilikan aset dan kekayaan besar, disertai transparansi anggaran yang lebih kuat. Lembaga antikorupsi dan sistem peradilan harus benar-benar independen agar mampu mengawasi penyalahgunaan kekuasaan. Pendidikan dan pelatihan vokasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan masa depan, sementara daerah harus diberi ruang fiskal yang lebih luas agar pembangunan tidak terus bergantung pada pemerintah pusat. Hilirisasi pun harus memastikan adanya transfer teknologi, keterlibatan UMKM, dan perlindungan lingkungan.

    Pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen tidak akan berarti jika manfaatnya hanya dirasakan segelintir orang. Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi negara maju, tetapi keberhasilan itu hanya mungkin tercapai jika kekuasaan digunakan untuk memperkuat institusi, bukan sekadar mempertahankan kepentingan elite. Persimpangan ini akan menentukan apakah Indonesia benar-benar menuju Indonesia Emas 2045 atau justru terjebak dalam pertumbuhan yang tampak menjanjikan, tetapi rapuh di dalamnya.

    Pada akhirnya, pertanyaan besarnya sederhana: dua puluh tahun dari sekarang, apakah anak-anak kita akan mewarisi Indonesia yang lebih adil, kuat, dan sejahtera, atau hanya mewarisi mimpi besar yang gagal diwujudkan karena kepentingan sempit? Jawabannya ditentukan oleh pilihan yang kita ambil hari ini.

     

    Oleh: Mudarris, Pengurus LPM Harokah

  • DPD Imaba Al-Khairat Gelar Pelatihan Jurnalistik, Taufik Hidayat Dorong Budaya Literasi

    DPD Imaba Al-Khairat Gelar Pelatihan Jurnalistik, Taufik Hidayat Dorong Budaya Literasi

    Pamekasan — Dewan Pengurus Daerah (DPD) IMABA Al-Khairat Pamekasan menggelar Pelatihan Jurnalistik dengan menghadirkan Taufik Hidayat, S.E. sebagai pemateri di Basecamp IMABA Al-Khairat Pamekasan, Minggu (05/07/2026).

    Pelatihan yang dimoderatori oleh Umar Faruk itu membahas dasar-dasar jurnalistik, mulai dari teknik penulisan berita, peliputan, hingga pentingnya menjunjung tinggi etika dalam proses penyampaian informasi.

    Pembina LPM Harokah tersebut menekankan bahwa jurnalistik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menulis, tetapi juga tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi.

    “Jurnalisme bukan sekadar soal menulis berita. Di dalamnya ada tanggung jawab moral untuk menghadirkan informasi yang benar, berimbang, dan bermanfaat,” ujarnya.

    Ia menambahkan, budaya literasi perlu terus ditumbuhkan agar kader tidak hanya memiliki kemampuan menulis, tetapi juga nalar kritis dalam menyikapi setiap informasi.

    “Karena itu, budaya literasi harus terus dibangun agar kader mampu berpikir kritis sebelum menyampaikan informasi,” pungkasnya.

    Sementara itu, Ketua DPD IMABA Al-Khairat Pamekasan, Moh. Amirullah, mengatakan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya organisasi dalam meningkatkan kapasitas kader di bidang jurnalistik.

    “Kami ingin kader IMABA mampu menjadi penyampai informasi yang kritis, objektif, dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

  • Tingkatkan Kapasitas Kader, DPD IMABA Al-Khairat Gelar Pelatihan Jurnalistik

    Pamekasan — Dewan Pengurus Daerah (DPD) IMABA Al-Khairat Pamekasan gelar Pelatihan Jurnalistik di Basecamp IMABA Al-Khairat Pamekasan, Minggu (05/07/2026).

    Kegiatan yang dimulai pukul 10.30 WIB hingga selesai ini bertujuan membekali kader dengan pengetahuan dan keterampilan dasar di bidang kepenulisan, peliputan, serta pengelolaan informasi.

    Pelatihan menghadirkan Taretan Taufiq Hidayat, S.E., Senior IMABA Al-Khairat, sebagai pemateri, dengan Taretan Umar Faruk, Pengurus IMABA Al-Khairat, sebagai moderator.

    Kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen DPD IMABA Al-Khairat Pamekasan dalam memperkuat kapasitas kader agar mampu menjawab tantangan perkembangan informasi di era digital.

    Ketua DPD IMABA Al-Khairat Pamekasan, Moh. Amirullah, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi ikhtiar organisasi untuk membekali kader dengan kemampuan jurnalistik yang memadai.

    “Pelatihan Jurnalistik ini kami selenggarakan untuk meningkatkan kapasitas kader IMABA Al-Khairat dalam bidang kepenulisan, peliputan, dan pengelolaan informasi agar mampu menjadi penyampai informasi yang kritis, objektif, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

    Ia berharap ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti pada ruang pelatihan, melainkan dapat diterapkan dalam aktivitas organisasi maupun di tengah masyarakat.

    “Harapan kami, ilmu yang diperoleh dapat diimplementasikan dalam organisasi maupun di tengah masyarakat, sehingga lahir kader-kader IMABA Al-Khairat yang memiliki budaya literasi kuat dan mampu menyampaikan gagasan secara konstruktif,” pungkasnya. (pin/vik)

  • Pengurus LPM Harokah Raih Medali Perunggu pada OSSN 2026

    PAMEKASAN – Pengurus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Harokah Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, Linda Ayuni, berhasil meraih medali perunggu pada bidang Akuntansi dalam ajang Olimpiade Sains Siswa Nasional (OSSN) 2026 yang diselenggarakan oleh Pusat Kejuaraan Sains Nasional (Puskanas).

    Kompetisi tingkat nasional tersebut dilaksanakan secara daring pada 28 Juni 2026, sedangkan pengumuman pemenang diumumkan pada 30 Juni 2026. OSSN diikuti peserta dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk kategori mahasiswa.

    Kepada LPM Harokah, Linda mengaku bersyukur atas capaian yang diraihnya. Menurutnya, hasil tersebut merupakan buah dari proses belajar dan dukungan berbagai pihak.

    “Alhamdulillah, saya bersyukur bisa meraih medali perunggu. Terima kasih kepada orang tua, dosen, dan teman-teman yang telah memberikan doa serta dukungan selama mengikuti kompetisi,” ujarnya.

    Ia berharap pengalaman tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan dan mengikuti kompetisi akademik lainnya.

    Rektor IAI Al-Khairat Pamekasan, Dr. Ali Ridho, M.S.I., mengapresiasi prestasi yang diraih Linda. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa IAI Al-Khairat mampu bersaing dalam kompetisi akademik tingkat nasional.

    “Kami mengapresiasi prestasi yang diraih Linda Ayuni. Semoga ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berprestasi sesuai bidang keilmuannya,” katanya.

    Ia menambahkan, kampus akan terus memberikan dukungan kepada mahasiswa yang ingin mengembangkan potensi dan berkompetisi di berbagai ajang akademik, baik tingkat regional maupun nasional.

  • Saat Organisasi Mahasiswa Tak Lagi Menjadi Pilihan Utama

    Pamekasan, – Di berbagai perguruan tinggi, organisasi kemahasiswaan kini menghadapi tantangan yang tidak bisa dianggap sepele, yaitu semakin sulitnya mencari kader baru untuk melanjutkan estafet kepengurusan. Fenomena ini bukan berarti mahasiswa kehilangan kepedulian terhadap organisasi, tetapi lebih menunjukkan adanya pergeseran cara pandang generasi muda dalam mengembangkan diri. Jika dahulu organisasi menjadi tempat utama untuk belajar kepemimpinan, membangun relasi, dan mengasah kemampuan berbicara di depan umum, kini banyak mahasiswa lebih memilih mengikuti program magang, kursus bersertifikat, kompetisi, atau bahkan bekerja sebagai freelancer karena dinilai lebih berdampak terhadap peluang karier mereka.

    Perubahan orientasi tersebut juga dipengaruhi oleh tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif. World Economic Forum dalam The Future of Jobs Report 2025 menjelaskan bahwa perusahaan saat ini lebih membutuhkan lulusan yang memiliki keterampilan analitis, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, literasi digital, dan pengalaman praktis. Di sisi lain, survei National Association of Colleges and Employers (NACE) 2024 menunjukkan bahwa pengalaman magang dan keterampilan yang relevan menjadi salah satu pertimbangan utama perusahaan dalam merekrut lulusan baru. Kondisi inilah yang membuat banyak mahasiswa merasa bahwa waktu yang mereka miliki akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk mengikuti kegiatan yang dapat memperkuat portofolio dan curriculum vitae (CV).

    Di Indonesia, fenomena tersebut semakin terlihat sejak diterapkannya berbagai program pembelajaran di luar kampus, seperti Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM). Banyak mahasiswa memilih mengikuti magang industri, studi independen, proyek kemanusiaan, maupun program kewirausahaan. Pilihan tersebut tentu merupakan langkah yang positif karena memberikan pengalaman nyata di dunia kerja. Namun, di sisi lain, organisasi mahasiswa harus menerima kenyataan bahwa jumlah anggota aktif maupun calon pengurus semakin berkurang sehingga proses regenerasi menjadi tidak semudah beberapa tahun yang lalu.

    Meski demikian, penyebab sulitnya regenerasi tidak sepenuhnya berasal dari perubahan minat mahasiswa. Organisasi mahasiswa juga perlu melakukan introspeksi. Tidak sedikit organisasi yang masih menjalankan pola kepengurusan yang kaku, program kerja yang bersifat seremonial, pembagian tugas yang kurang merata, bahkan budaya senioritas yang masih terasa. Kondisi seperti ini membuat mahasiswa baru enggan bergabung karena menganggap organisasi hanya menambah beban tanpa memberikan manfaat yang sebanding. Padahal, organisasi seharusnya menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus mampu memberikan pengalaman yang tidak diperoleh di dalam ruang kuliah.

    Oleh karena itu, organisasi mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan semangat pengabdian sebagai daya tarik utama. Organisasi perlu bertransformasi menjadi wadah yang benar-benar relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Program kerja sebaiknya dirancang agar mampu meningkatkan kompetensi anggotanya melalui pelatihan, sertifikasi, kolaborasi dengan dunia industri, pengembangan proyek sosial, hingga pendampingan karier. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dalam koordinasi organisasi juga perlu diperkuat agar aktivitas organisasi menjadi lebih fleksibel dan tidak mengganggu kewajiban akademik mahasiswa. Budaya organisasi yang terbuka, menghargai setiap anggota, serta bebas dari senioritas yang berlebihan juga menjadi faktor penting agar mahasiswa merasa nyaman untuk bertahan dan melanjutkan kepengurusan.

    Pada akhirnya, sulitnya regenerasi organisasi mahasiswa bukanlah tanda bahwa generasi muda tidak lagi peduli terhadap kepemimpinan atau kehidupan kampus. Justru yang berubah adalah ekspektasi mereka terhadap sebuah organisasi. Mahasiswa masa kini menginginkan wadah yang tidak hanya memberikan pengalaman berorganisasi, tetapi juga mampu meningkatkan kompetensi, memperluas jejaring, dan memberikan nilai tambah bagi masa depan mereka. Apabila organisasi mahasiswa mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, maka organisasi akan kembali menjadi tempat yang diminati dan regenerasi kepengurusan dapat berlangsung secara berkelanjutan.**

    **Oleh : Taufik hidayat (Pembina LPM Harokah IAI Al-Khairat Pamekasan)

  • Jejak kehidupan

    Hidup bukan sekadar tentang waktu yang terus berjalan,
    tetapi tentang bagaimana kita mengisi setiap langkah
    dengan harapan, perjuangan, dan doa.

    Ada hari ketika mentari bersinar begitu hangat,
    namun ada pula saat langit dipenuhi mendung
    yang seolah tak ingin berlalu.
    Di sanalah kehidupan mengajarkan
    bahwa bahagia dan luka
    selalu datang silih berganti.

    Kita sering mengeluh karena jalan terasa berat,
    padahal setiap rintangan
    sedang membentuk diri menjadi lebih kuat.
    Tak semua impian hadir secepat yang diinginkan,
    dan tak semua doa dijawab sesuai harapan.
    Namun waktu selalu tahu
    kapan seseorang pantas menerima hasil dari perjuangannya.

    Jangan iri pada mereka yang telah lebih dahulu sampai.
    Setiap orang memiliki jalannya sendiri,
    memiliki cerita yang tak sama,
    dan memiliki waktu yang telah ditentukan.

    Jika hari ini langkahmu terasa lambat,
    jangan berhenti.
    Jika hari ini hatimu dipenuhi kecewa,
    jangan menyerah.
    Sebab pohon yang kokoh pun
    berawal dari benih kecil
    yang berani menembus kerasnya tanah.

    Suatu hari nanti,
    ketika menoleh ke belakang,
    kita akan tersenyum melihat semua luka,
    karena ternyata setiap air mata
    telah mengantarkan kita
    menjadi pribadi yang lebih bijaksana.

    Maka jalani hidup dengan hati yang lapang,
    bersyukur ketika bahagia,
    bersabar ketika terluka,
    dan tetap rendah hati ketika berhasil.

    Sebab pada akhirnya,
    kehidupan bukan diukur dari seberapa tinggi kita berdiri,
    melainkan dari seberapa banyak kebaikan
    yang kita tinggalkan untuk sesama.

    Karena hidup akan berakhir,
    tetapi kebaikan akan selalu menemukan jalannya
    untuk dikenang selamanya.